Saturday, March 8, 2014

Dua Tahun Sudah

Assalamualaikum :)

Lama sudah saya dan teman- teman lainnya tak berjumpa, hanya satu kali dalam enam bulan kami semua melepas rindu bersama- sama dan selalu saja berkumpul di Masjid SMA 3 untuk memulainya. Kemarin ketika liburan semester, 2 Februari 2014, saya dan beberapa temen- temen ROTI berkunjung ke salah satu Mall baru di bilangan Jakarta Selatan. Ada yang tau Mall baru di depan Mall Ambassador? Yap! Itu dia! Saya bersama ketujuh temen- temen yang hari itu bisa ngumpul untuk cerita bareng masalah apa aja setelah kita semua selalu berpisah selama enam bulan setuju beranjak ke sana. 

Sebenarnya rencana pertemuan itu sudah ramai dibicarakan pada akun group facebook, tapi apa daya. Hari itu hanya ada saya, Nia, Nur dan Aya perwakilan akhwat dan perwakilan ikhwan dihadiri Fadhil, Eranio, Dimas dan Zein. Seperti biasanya, kami berkumpul di Masjid sekolah dan bingung merencanakan kemana kita semua bakalan "hang out" , pas udah mematangkan niat ke Mall baru depan Mall Ambas, kita semua yang ngumpul di SMA (aku, Nur, Nia, Aya, Fadhil, Zein) langsung capcus ambil motor di parkiran gerbang Felix deket kantin. Tapi di lapangan basket sedang berlangsung parodi drama (syuting pilm) yang dimainkan oleh remaja tanggung (kayaknya kok bukan om ama tante yang maksa pake baju sekolah) yang wajahnya Indo gitu, jadi kami berenam harus menggeret motor persis di depan gerbang untuk nggak mengganggu suasana itu.

Sesampainya kami berenam di Mall itu, setelah dua kali melewati tempat parkiran basement, kami berputar- putar mencari tempat makan (niatnya emang cuma mau cari tempat makan biar bisa duduk lama- lama dan ngobrol). Namun berhubung waktu sudah hampir menunjukkan Maghrib tiba, maka kami sepakat untuk mencari mushollah di dalam Mall pada lantai terdekat. Lantai dua kalo bener seingatku, kami sholat maghrib di mushollah tersebut. Dari luar bagus sih mushollahnya, acung jempol deh, keren dan nyaman. Tapi.... Ketika para akhwat mengambil air wudhu, kaca- kaca yang saling memantul sepanjang tempat wudhu ternyata terpantul hingga masuk ke dalam mushollah dan terlihat di bagian laki- laki. Terlihat? Ye lah keliatan, gimana nggak keliatan kalau batas pemisah (hijab) antara muslim dan muslimah adalah kaca besar tembus pandang. Dan saya baru sadar setelah setelah saya selesai berwudhu kalau cermin itu memantulkan bayangan muslimah yang sedang berwudhu dan bertambah shock ketika imam sholat Maghrib yang mengumandangkan takbir tidak terdengar sama sekali suaranya. Ternyata kaca transparan yang berfungsi sebagai hijab itu telah meredam berbagai suara di tempat kaum laki- laki sholat -,-''. Mall macam apalagi ini, batin saya. Ada- ada aja emang arsitek jaman sekarang.

Setelah sholat di mushollah teraneh itu, kami bergegas menuju lantai paling atas untuk makan malam. Sebelumnya kami berenam bertemu dua orang atau yah mereka lah yang menyusul meramaikan suasana, Eranio dan Dimas. Di lantai tersebut kami memilih tempat paling murah menurut kami (tapi menurut anak kuliahan yang ngekos di luar kota, ish mahal banget harganya :3). Selama kami makan banyak hal aneh dan lucu terjadi yang disebabkan oleh kisah klasik Zein dan masalah kecil Eranio (biasa nggak lucu, apalagi kalo ada Tantra). Jadilah kami semua ketawa saat sedang mengunyah makanan, bahkan Aya sampe nggak bisa minum karena kekonyolan Eranio yang berada tepat duduk berseberangan dengannya. Selepas makan kami melanjutkan ngobrol ngalor-ngidul mulai dari kuliah sampe kesibukan saat ini. Bahkan kami sempat bermain truth or dare yang menyimpulkan beberapa cerita beserta perasaan yang ada *ceileh* Nggak sampe malem banget, kami memutuskan untuk kembali ke rumah masing- masing dan menyelesaikan pertemuan hari itu yang sangat singkat.

Dari pertemuan terakhir kami itu, saya jadi punya ide buat bikin acara tiap bulan sekali di Masjid SMA 3 daripada ngalor-ngidul hangout ke tempat yang nggak jelas. Di kutip dari buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, saya lupa perkataan siapa. " Masjid dan Pasar itu memiliki hubungan, apabila pasar ramai maka sepilah Masjid dan apabila Masjid ramai maka akan tetap ramailah pasar. Jadi ramaikanlah Masjid dibanding meramaikan pasar." Dan saya sendiri baru sadar bahwa Mall= pasar yang notabene adalah rumah ternyaman para setan dan iblis mengambil keuntungan. Rumah itu sekarang dibuat sangat megah dan  nyaman, sudah berbeda memang dengan pasar tradisional, tapi tetep ajakan namanya pasar? Yah pokoknya semoga aja pertemuan enam bulan berikutnya nggak harus ke Mall (lagi), tapi bikin acara di Masjid SMA tercinta, macam kajian atau apalah yang penting kan ngumpul :D

P.S : Bagi kalian temen- temen lain yang gak sempet ikut, semoga pertemuan berikutnya diberikan kemudahan untuk kita semua berkumpul. Aamiin.